Assalamu’alaikum
waroh matulloh...
(mukoddimahh
bikin sendiri aja yaa)
Sebelumnya
saya mau bertanya, “Pernahkah kalian bermimpi untuk menjadi seseorang yang
hebat di masa depan? Apakah kalian memiliki harapan untuk menjadi seseorang
yang menguasai berbagai macam bidang ilmu? Atau pernahkah kalian bercita-cita supaya bisa menghafal alfiyah
seribu bait misalnya?”
Saya yakin setiap
orang pasti dan harus mempunyai harapan dalam hidupnya, entah itu ingin
membahagiakan kedua orang tuanya, menjadi seorang istri solehah, hafal alquran
30 juz, atau harapan harapan lain yang ingin segera terlukis di kanvas nyata. Semua itu merupakan tabiat manusia yang
identik dengan kecenderungannya untuk menjadi sosok ideal yang diinginkannya di
masa depan kelak.
Seseorang
yang memiliki banyak harapan menandakan bahwa dia mempunyai visi dalam
hidupnya. Harapan yang dia miliki akan menjadi pendorong semangat dalam
kesehariannya untuk terus bergerak, berusaha mencapai titik poin yang
diinginkannya.
Lalu, bagaimana caranya supaya harapan kita
benar-benar tercapai sesuai dengan yang kita inginkan?
Harapan/cita-cita
atau dalam bahasa inggrisnya “hope”,
tidak akan terwujud jika tidak diiringi dengan usaha/ikhtiar untuk
mewujudkannya. Karena pencapaian harapan tidaklah instan dan butuh pengorbanan.
Tidak cukup
sampai disitu, sebagai seorang muslim yang baik hendaknya harapan dan ikhtiar
yang dia lakukan dibarengi dan diperkuat dengan doa. Karena dengan berdoa,
berarti dia telah menggantungkan segala urusan kita hanya kepada Alloh semata,
tidak kepada yang selainnya. “allohu
ash-shomad” ([hanya] Allohlah tempat bergantung segala sesuatu). Dan doa
merupakan senjatanya orang mukmin selain merupakan salah satu bentuk ibadah
kepada Alloh ta’ala. “ad-du’aau shilaahul mukmin” (doa itu senjatanya
orang mukmin). “ad-du’aau huwal ibaadah”
(doa adalah ibadah).
Bahkan Alloh
sendiri yang memerintahkan hambanya untuk senantiasa berdoa: “ud’uunii astajib lakum” (berdoalah
kepadaku, niscaya akan aku perkenankan doamu).
Setelah
semuanya dilakukan, maka ada satu hal lagi yang tidak boleh terlewatkan yaitu
bertawakkal dan berhusnudzon kepada Alloh bahwa semua yang kita harapkan, semua
yang kita mimpikan dan semua yang kita cita-citakan akan Alloh kabulkan menjadi
kenyataan.
Lalu
bagaimana kalau kita berharap / menaruh harapan kepada manusia? Bolehkah kita
melakukannya?
Ketahuilah
saudara/saudariku, bahwa sesungguhnya Alloh sangat mudah sekali
membolak-balikan hati manusia, dari yang tadinya ingin menepati janji malah
mengingkari, dari yang tadinya mau berbuat baik malah mengurungkan niatnya,
jadi berharaplah hanya kepada Alloh dalam segala urusan, manusia hanya sebagai
perantara dari siklus terkabulnya/terwujudnya sebuah harapan. Pada hakikatnya
hanya Alloh-lah sebaik-baik tempat kita untuk berharap. Firman alloh ta’ala
dalam surat al-Insyiroh ayat 8: “wa ilaa robbika farghob” (dan hanya kepada
Tuhanmulah hendaknya kamu berharap).
Kita bahkan
diajarkan untuk selalu bersikap penuh harap akan karunia dan rahmat Alloh. Kita
tidak boleh putus asa dari rahmat dan karunia-Nya. Dan Alloh menyuruh kita
untuk terus berdoa kepada-Nya dan yakin atas doa kita kepada-Nya. Rosululloh
saw bersabda: “Berdoalah kepada Alloh dengan penuh keyakinan akan dikabulkan.
Dan ketahuilah bahwa Alloh tidak menerima doa dari hati yang kosong dan lalai.”
(HR. At-Tirmidzi).
Sekian yang
dapat saya sampaikan, mudah mudahan semua harapan dan doa kita diijabah oleh
Alloh ta’ala.
Satu lagi, “Alloh
tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan
mentari selalu bersinar, tapi ketahuilah bahwa alloh selalu memberi pelangi di
setiap badai, senyuman di setiap tetesan air mata, berkah di setiap cobaan dan
jawaban di setiap doa”.
Syukron ‘ala
ihtimaamikum...
Wassalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokaatuh.