Selasa, 05 Mei 2015

"Harapan"


Assalamu’alaikum waroh matulloh...
(mukoddimahh bikin sendiri aja yaa)

Sebelumnya saya mau bertanya, “Pernahkah kalian bermimpi untuk menjadi seseorang yang hebat di masa depan? Apakah kalian memiliki harapan untuk menjadi seseorang yang menguasai berbagai macam bidang ilmu? Atau pernahkah kalian  bercita-cita supaya bisa menghafal alfiyah seribu bait misalnya?”

Saya yakin setiap orang pasti dan harus mempunyai harapan dalam hidupnya, entah itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya, menjadi seorang istri solehah, hafal alquran 30 juz, atau harapan harapan lain yang ingin segera terlukis di kanvas nyata.  Semua itu merupakan tabiat manusia yang identik dengan kecenderungannya untuk menjadi sosok ideal yang diinginkannya di masa depan kelak. 

Seseorang yang memiliki banyak harapan menandakan bahwa dia mempunyai visi dalam hidupnya. Harapan yang dia miliki akan menjadi pendorong semangat dalam kesehariannya untuk terus bergerak, berusaha mencapai titik poin yang diinginkannya.

Lalu,  bagaimana caranya supaya harapan kita benar-benar tercapai sesuai dengan yang kita inginkan?
Harapan/cita-cita atau dalam bahasa inggrisnya “hope”, tidak akan terwujud jika tidak diiringi dengan usaha/ikhtiar untuk mewujudkannya. Karena pencapaian harapan tidaklah instan dan butuh pengorbanan.
Tidak cukup sampai disitu, sebagai seorang muslim yang baik hendaknya harapan dan ikhtiar yang dia lakukan dibarengi dan diperkuat dengan doa. Karena dengan berdoa, berarti dia telah menggantungkan segala urusan kita hanya kepada Alloh semata, tidak kepada yang selainnya. “allohu ash-shomad” ([hanya] Allohlah tempat bergantung segala sesuatu). Dan doa merupakan senjatanya orang mukmin selain merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh  ta’ala. “ad-du’aau shilaahul mukmin” (doa itu senjatanya orang mukmin). “ad-du’aau huwal ibaadah” (doa adalah ibadah).

Bahkan Alloh sendiri yang memerintahkan hambanya untuk senantiasa berdoa: “ud’uunii astajib lakum” (berdoalah kepadaku, niscaya akan aku perkenankan doamu).

Setelah semuanya dilakukan, maka ada satu hal lagi yang tidak boleh terlewatkan yaitu bertawakkal dan berhusnudzon kepada Alloh bahwa semua yang kita harapkan, semua yang kita mimpikan dan semua yang kita cita-citakan akan Alloh kabulkan menjadi kenyataan.

Lalu bagaimana kalau kita berharap / menaruh harapan kepada manusia? Bolehkah kita melakukannya?
Ketahuilah saudara/saudariku, bahwa sesungguhnya Alloh sangat mudah sekali membolak-balikan hati manusia, dari yang tadinya ingin menepati janji malah mengingkari, dari yang tadinya mau berbuat baik malah mengurungkan niatnya, jadi berharaplah hanya kepada Alloh dalam segala urusan, manusia hanya sebagai perantara dari siklus terkabulnya/terwujudnya sebuah harapan. Pada hakikatnya hanya Alloh-lah sebaik-baik tempat kita untuk berharap. Firman alloh ta’ala dalam surat al-Insyiroh ayat 8: “wa ilaa robbika farghob” (dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap).

Kita bahkan diajarkan untuk selalu bersikap penuh harap akan karunia dan rahmat Alloh. Kita tidak boleh putus asa dari rahmat dan karunia-Nya. Dan Alloh menyuruh kita untuk terus berdoa kepada-Nya dan yakin atas doa kita kepada-Nya. Rosululloh saw bersabda: “Berdoalah kepada Alloh dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Alloh tidak menerima doa dari hati yang kosong dan lalai.” (HR. At-Tirmidzi).

Sekian yang dapat saya sampaikan, mudah mudahan semua harapan dan doa kita diijabah oleh Alloh ta’ala.
Satu lagi, “Alloh tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan mentari selalu bersinar, tapi ketahuilah bahwa alloh selalu memberi pelangi di setiap badai, senyuman di setiap tetesan air mata, berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap doa”.

Syukron ‘ala ihtimaamikum...
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar